Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah
perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah
membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya
akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.
Bilal dibesarkan di kota Ummul
Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah
mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh
penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya
agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai
mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang
pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada
beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul
Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib,
‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin
al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan
orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan,
siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin
yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan
kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar
dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka.
Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba
sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy
menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas
mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti
ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa
oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih
sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah.
Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada
perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam
sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara
seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus
disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas
ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu
menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang
tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka
terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai
di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka
mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa
begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin
lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang
menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan
Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu
masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah
dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak
menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka
menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata,
“Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan
batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin
meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji
Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka
terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak
bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan
keras.
Apabila merasa lelah dan bosan
menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang
kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar
menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu,
Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan
Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…,
Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar
Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli
Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar
tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus
mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata
kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun,
maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya
engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu
untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus
menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu
denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu
menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka
segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal
tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka
terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam
kerinduan dengan suaranya yang jernih :
Duhai malangnya aku, akankah
suatu malam nanti Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah Akankah aku melihat lagi
pegunungan Syamah dan Thafil
Tidak perlu heran, mengapa Bilal
begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan
pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia
menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah
ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan
tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya.
Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus
kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.
Selalu bersamanya saat shalat
maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan
azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan
(muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan
azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam
seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi…(Mari
melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera
melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja
Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling
istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara
sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi
tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu,
selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia
membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha),
dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan
beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu
‘alaihi wasallam dalam Perang
Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi
janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para
pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan
Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan
darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa
dahulu.
Ketika Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan
hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat
masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin
Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan
Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang
berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk
orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati
maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada
saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk
mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu
‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan
suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke
arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi
di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa
memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati
mereka.
Saat azan yang dikumandangkan
Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.
Juwairiyah binti Abu Jahal
bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan
shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh
orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam
Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku
bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan
peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata,
“Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik
ke atas Ka’bah.”
AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata,
“Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara
di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka
hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat
pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad
bin Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula,
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat
disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata,
“Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal
berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat
Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia
tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak
kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana
semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga
hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi
(Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu.
Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada
Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam
sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena
tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk
keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut
berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu
untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota
Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku
untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika
engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju
kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah,
aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena
Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu,
aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku
mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang
dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh
dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga
kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan
Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan
dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada
yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera
menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan
tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan
tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di
hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu
kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya,
maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat
yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal
membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati
di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal,
“pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.
Disalin dari Biografi Ahlul
Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor
‘Abdurrahman Ra’fat Basya
Artikel
www.KisahMuslim.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar